admin/ July 19, 2019/ narasi ibuk/ 0 comments

Ditulis Ibuknya Hikam

Di usia kehamilan ke-34 minggu, vonis pre-eklamsia dari dokter sukses membuatku cemas berlebihan. Cemas karena takut anakku lahir dengan kekurangan. Cemas akan ketakutan-ketakutan yang aku ciptakan sendiri soal proses persalinan. Persepsi emosi di otakku sudah seperti lautan yang diterjang topan.

Memasuki minggu ke-35, aku putuskan untuk tak lama berlarat-larat dengan urusan rasa ini. Cukup sudah hati pernah ambyar karena love someone I can’t have. Jangan lagi ditambah dengan membuat drama baru karena gangguan kehamilan. Hidup sudah berat Nona, stop mendramatisasi perasaan.

Fine. The show must go on…

Lagipula dari literatur yang pernah kubaca, kondisi psikis ibu selama hamil bisa memengaruhi perkembangan emosi anak kelak. Karenanya, bumil sebisa mungkin menikmati kehamilan, menyamankan diri dan menstimulasi si kecil dengan rajin mengajaknya bicara. Alternatif lainnya, bumil juga bisa memperdengarkan musik kepada si kecil.

Begitulah teori yang aku dapat. Praktiknya? Klasik, tak selurus teorinya.

Masuk trimester ketiga, aku jadi mudah cemas, gampang menangis dan sensitif. Enggak biasanya aku serapuh rengginang. Tiap kali cemas, gembeng dan sensitif berlebihan melanda, aku usahakan untuk banyak membaca.

Bagiku, kunci emosi yang stabil selama kehamilan adalah dengan mengalihkan state of mind. Pikiran yang dikuasai rasa cemas dan emosi berlebih tak pernah berakhir baik. Karenanya, kualihkan pikiranku dengan membaca. Kalian mungkin punya cara lain? Menonton komedi atau berkebun mungkin.

Mengapa justru mengalihkan pikiran bukan menerima keadaan? Aku buat contoh sederhana. Saat kamu kehilangan seseorang dan kamu merasakan rasa kehilangan yang dalam, kamu tahu benar keadaan itu disebabkan oleh kehilangan dirinya. Menghadapi perasaan, menerima keadaan dan melanjutkan hidup adalah solusinya.

Namun, dalam kasus bumil yang sensitif berlebihan, penyebabnya seringkali tidak jelas. Ibarat hanya dengan melihat laron yang putus sayap dan cuma bisa menggeliat di ubin yang dingin saja, bumil sudah bisa menangis sesenggukan. Maka, aku coba mengalihkan perhatian. Dan itu berhasil. Namun, beberapa kali pertahananku jebol juga.

Seingatku, yang paling ekstrim adalah saat aku menangis selama tiga hari. Enggak maraton menangis memang. Hanya sering tiba-tiba menangis karena teringat faktor pencetusnya.

Faktor pengaduk emosi itu bukan Bapaknya Hikam. Bukan. Tapi seekor kucing kembang telon bernama pawpaw.

Kucing ini awalnya bukan piaraan kami. Setelah membeli rumah, Bapaknya Hikam iseng memberi makan si kucing yang sering datang kunjungan dinas ke rumah. Kebiasaan ini berlanjut setahun lebih dan setelah kami menikah. Saking seringnya ada di rumah, entah bagaimana awalnya si kucing sudah kami panggil dengan sebutan pawpaw. Rumah kami ibarat base camp buat dia.

Nah, masuk kehamilan trimester kedua, pawpaw juga ikut hamil. Aku yang waktu itu sudah resign, senang karena ada teman senasib sepenanggungan meski beda spesies. Jadilah dia teman pengusir sepi saat Bapaknya Hikam tak di rumah.

Di trimester ketiga, pawpaw melahirkan di belakang rumah kami. Baru beberapa hari melahirkan, pawpaw tak terlihat lagi. Dugaanku dia mati keracunan. Asumsi ini aku buat karena sebelum pawpaw tak ada, dia ke rumah membawa bangkai tikus, memakannya, dan muntah-muntah setelah itu. Dugaanku dikuatkan Bapaknya Hikam yang bilang penghuni kampung kami memang biasa meracun tikus.

Alhasil, sepanjang hari selama dua hari, aku mendengar bayi-bayi kucing itu menangis. Entah karena lapar, kedinginan atau memanggil ibunya.

Aku juga ikut menangis selama itu. Plus sehari setelah bayi-bayi itu disingkirkan oleh Bapaknya Hikam. Ada rasa kehilangan yang dalam, yang entah bagaimana kukait-kaitkan dengan kehilangan almarhum bapak. Ada juga rasa cemas berlebihan bila kelak tak bisa mengurus anakku. Rasa ini sulit kuutarakan waktu itu. Dan menangis adalah kompensasinya.

Sesensitif itu memang. Mood ekstrim yang demikian muncul karena perubahan hormon bumil memengaruhi tingkat neurotransmitter yang salah satunya berfungsi mengatur emosi.

Jadi, jangan salahkan bumil kalau ia mendadak menangis, manja dan butuh afeksi lebih. Salahkan saja suaminya. Bagaimana bisa?

Ya, enggak asik aja mau menyalahkan kucing.

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*