admin/ July 31, 2019/ narasi bapak/ 0 comments

Ditulis Bapaknya Hikam

Melanjutkan kisah ritual pertama, bagi calon bapak budiman tentunya harus memersiapkan kehadiran si kecil. Persiapan harus matang, tidak boleh sembarangan. Boleh lah pas mbuatnya sembarangan, asal pas sudah jadi harus serius. Bukan apa-apa, banyak orang bilang 1000 hari pertama dihitung sejak terjadi pembuahan itu adalah masa krusial bagi si kecil. Periode tersebut akan menjadi bekalnya untuk menjalani kehidupan yang keras nantinya. Ya, kehidupan itu keras Bung!

Memilih nama menjadi persiapan yang terbilang susah. Pun harus dilakukan dengan hati-hati. Jika memberikan nama yang salah, bisa berakibat menjadi bahan bully bagi teman-temannya. Kita tahu dunia perbully-an anak-anak itu ngeri-ngeri sedap. Tidak hanya dalam hal arti dari nama tapi juga bunyi pelafalan. Percayalah, bully-an nama itu tetap dan abadi.

Saran dari Bapaknya Hikam, pertama, tentukan dulu nama panggilannya. Baru kemudian nama lengkap. Jika sebaliknya, seringkali kita menemukan nama lengkap kemudian untuk nama panggilannya terdengar dipaksakan. Misalnya saja Shakeela Eleanor Mauritania. Bisa dibayangkan nama panggilannya. Tania masih terdengar mendingan. Seringkali ia dipanggil Ela sama teman atau tetangga.

Kedua, jangan memersulit nama anak dengan pelafalan yang aneh-aneh. Kasihan yang menjadi gurunya kelak. Takutnya menyebabkan keseleo lidah. Sekadar informasi, keseleo lidah tidak termasuk dalam klasifikasi kecelakaan kerja menurut Disnaker. Jadi kasihanilah bapak-ibu guru dari anak kalian kelak. Tipsnya adalah sebaiknya hindari pengggunakan konsonan dalam nama yang tidak sesuai dengan local wisdom. Misalnya menghindari huruf F, X dan Z.

Ketiga, tidak usahlah nama itu terlalu panjang. Pengalaman pribadi Bapaknya Hikam, nama yang panjang akan memersulit anak ketika menghadapi ujian. Ketika saya baru menyelesaikan penulisan kolom nama di lembar LJK (lembar jawab komputer), teman teman yang lain sudah mengerjakan sampai soal nomor 5. Ingat wahai tuan dan puan sekalian, dunia itu milik yang cepat! survival of the fastest.

Keempat, saran minor. Jika tuan dan puan tidak ingin anaknya berada di meja paling depan ketika ujian, jangan gunakan huruf A sebagai awalan. Tapi kalau menginginkan pembentukan anak dengan karakter yang jujur, gunakanlah huruf A, apalagi kalau A diikuti dengan huruf B. Posisi meja ujiannya akan langsung paling depan, dihadapan guru langsung. Di zaman akhir ini, menjaga akhlak supaya karimah bisa menggunakan segala cara bukan?

Mengurai Aksara Hikam Nararya

Pada konteks nama anak kami, Bapaknya Hikam menentukan nama panggilan terlebih dahulu. Yak, kata itu adalah Hikam. Artinya adalah kebikjasanaan dalam bentuk jamak. Kata ini diambil dari bahasa Arab. Bapaknya Hikam terinspirasi nama ini dari karya sufi besar Ibnu Athailah, yakni Al-Hikam. Kitab ini menjadi rujukan bagi orang-orang yang menjadi pejalan menuju Allah.

Setelah  mendapatkan nama panggilan dan dari bahasa Arab, kami ingin anak kami namanya terdiri dari serapan bahasa indonesia, bahasa arab, dan bahasa sansekerta. Karena ketiga bahasa tersebut sedikit banyak mewakili identitas bangsa Indonesia sebagai multi pot beragam kebudayaan besar.

Dipilihlan nama Aksara sebagai nama depan. Kata ini diambil dari serapan Bahasa Sansekerta yang sudah dinaturalisasi menjadi Bahasa Indonesia. Nama ini berarti huruf. Entitas terkecil dari pembentuk kalimat, bahkan kata.  Maksud kami karena ia merupakan entitas terkecil yang masih murni,  jadi tidak membentuk arti apapun. Tujuannya adalah agar anak kami bisa bebas menentukan pilihan dan jalan-jalan takdirnya kelak. Tanpa terlalu dibayangi bahkan dibebani oleh maksud dan harapan dari kedua orang tuanya.

Kemudian, sebagai kata terakhir dan menjadi nama terakhir adalah Nararya. Kata ini diambil dari Bahasa Sansekerta pun sudah diakuisisi pula menjadi Bahasa Kawi. Kata ini berarti manusia yang dimuliakan. Nararya sebenarnya terdiri dari dua kata yang digabungkan menjadi satu kata. Nara yang berarti manusia dan Arya yang berarti mulia.

Begitu kira-kira proses lahirnya nama anak kami. Seluruh proses ini dilakoni oleh Bapaknya Hikam. Sementara itu Ibuknya Hikam yang menyupervisi. Banyak tolakan sudah dari nama yang diajukan. Beruntungya saya tidak perlu sampai belasan sususan nama yang harus diajukan kepada Ibuknya Hikam.

Secara garis besar Aksara Hikam Nararya bisa diartikan atau dimaksudkan doa oleh bapak-ibuknya sebagai manusia mulia yang penuh kebebasan dan banyak kebijaksanaan.

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*