admin/ July 26, 2019/ narasi ibuk/ 0 comments

Ditulis Ibuknya Hikam

Saat belajar Bahasa Indonesia di SD, ibu guru memberiku dan teman-teman sekelas PR untuk mencari sebanyak mungkin pepatah beserta artinya. Waktu itu, aku ingat menulis sebanyak dua lembar pepatah Bahasa Indonesia. Teman sekelasku tak kalah giat. Ada yang menulis hingga empat lembar.

Nama panggilan kami disebut satu-satu. Tanpa komando lanjutan, kami berbaris memanjang di sisi meja guru. Satu demi satu dari kami menyodorkan buku. Ibu guru membolak-balik buku kami, membubuhkan nilai, lantas menyalin nilai di buku catatannya. Aku dapat 70.

Salah satu pepatah yang kusalin di buku berbunyi: semakin tinggi pohonnya, semakin kencang anginnya. Artinya kira-kira begini: semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak rintangannya.

Mungkin bisa kupinjam pepatah itu guna membahasakan kehamilanku di trimester ketiga. Bunyinya jadi seperti ini: semakin besar perut bumil, semakin ada-ada saja butuhnya.

Kebutuhan, yang kalau sekarang dipikir-pikir, ternyata tidak semua penting dan harus segera dimiliki. Kebutuhan seperti apa itu? Aku bahas garis besarnya.

*****

Tak ada sensasi yang lebih paripurna, setidaknya bagiku sebagai bumil, yang mampu menyaingi gemasnya melihat baju bayi di toko. Ya Lord, baju-baju itu begitu ketjil, warna-warni, bergambar lucu dan sebagian begitu halus di kulit. So adorable and cute. It’s like I wanna eat them.

Biasanya, aku memilih baju polos berwarna gelap berpotongan sederhana buat kupakai sendiri. Kalau tidak berwarna hitam atau biru, pastilah coklat. Tapi seleraku soal baju runtuh seketika saat memilih baju bayi. Kupilih baju dominan berwarna pastel aneka rupa. Tak lupa baju berpotongan atau bercorak karakter kartun atau hewan beragam jenis.

Tak berhenti di situ, popok langsung kuterabas tiga lusin ditambah hampir dua lusin selimut bayi. Perlengkapan mandi bayi, seperti sabun, sampo, cologne, bedak, kumasukan dalam keranjang. Plus, barang yang harganya paling mahal mesti jadi pilihan. Kalap mewujud dalam berkantung-kantung plastik belanjaan. Dan yang paling miris, saldo rekening deras berkurang.

Di kemudian hari, barang-barang itu banyak tak terpakai. Popok contohnya. Hikam hanya pakai popok sebulan. Bulan selanjutnya, kami jadi pro diapers karena tak telaten mencuci gunungan popok dan selimut Hikam.

Bedak, cologne, body lotion, hair lotion juga tak pernah terjamah. Alasannya, dokter tak menganjurkan pemakaian produk – produk itu.

Sampo dan sabun juga tak habis terpakai karena Hikam alergi. Kami beralih pada top-to-toe wash dengan merk middle end dan harga lebih murah.

Selain kalap soal perlengkapan bayi, kalap yang lain juga terjadi saat menentukan kebutuhan ibu saat di Rumah Sakit pasca-melahirkan.

Aku ambil contoh. Diapers orang dewasa dan pembalut wanita akhirnya tidak terpakai. Produk itu sudah disiapkan oleh RS.

Pun breast pad alias popok buat menadah limpahan ASI juga tak berguna saat di RS. Ini karena setelah lahiran, ASI tak langsung mengalir deras. Breast pad baru nyata fungsinya setelah empat atau lima hari setelah melahirkan.

Sepulang dari RS, nasib yang sama menimpa korset. Dia hanya kupakai dua hari. Selanjutnya, kubiarkan perutku tumpah ruah tanpa proteksi.

Jadi sebenarnya, barang-barang apa yang penting dibeli?

Aku pikir, aku tak bisa mendaftarnya satu-satu. Semua bergantung kebutuhan yang relatif berbeda bergantung keadaan.

Namun, dari pengalaman menyambut Hikam, setidaknya aku bisa katakan pada diriku di masa lalu: “Pikirlah dua tiga kali sebelum mengiyakan apa yang kamu baca di internet, apa yang kamu lihat di Youtube atau apa yang temanmu sarankan”.

Selain itu, hal yang kuakui jadi luput dalam mempersiapkan persalinan adalah tidak rinci bertanya pada pihak RS. Tanyalah apakah perlu membawa sendiri pembalut wanita, diapers buat ibu dan si kecil, beserta tetek bengek lain yang “awalnya kamu rasa penting”.

Penting juga digarisbawahi untuk membelikan si kecil perlengkapan dengan harga bersahabat kalau tak mau dikatakan murah meriah. Jika si kecil tak cocok, baru ganti dengan yang sedikit lebih mahal. Intinya, awali dari produk low end.

Aku jadi ingat, jangan – jangan kelakuanku memborong banyak barang untuk menyambut Hikam dipengaruhi pikiran kanak-kanakku saat SD.

Seusai menerima buku catatan yang telah dibubuhi nilai 70, aku celingukan menengok nilai teman-teman. Kusimpulkan, semakin panjang apa yang mereka tulis, semakin bagus nilainya.

Meski sudah setua ini, persepsi mental itu kubawa-bawa. Semakin lengkap dan banyak barang yang kubeli, maka semakin baik persiapanku.

Sayangnya di kehidupan yang seringkali tak tertebak ini, yang banyak belum tentu efektif berguna, yang sedikit cukup bila dicukup-cukupkan.

Baiknya bagaimana?

Enggak ada rumus pastinya. Cukup dipraktikkan saja pakai akal dan rasa.

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*