admin/ August 12, 2019/ narasi ibuk/ 0 comments

Ditulis Ibuknya Hikam

 

Apa yang manusia anggap magis?

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan banyak kemungkinan. Setiap orang punya jawabannya sendiri. Aku misalnya. Sewaktu kecil, rumpun bambu yang tumbuh persis di sebelah rumahku kuanggap magis. Batangnya tinggi menjulang jauh melampaui atap rumahku. Setiap saat, rumpun batang itu berderit bergesekan satu sama lain. Belum lagi suara daun lebatnya yang gemerisik diterpa angin. Tak pernah diam.

Tiap kali melihat rumpun bambu yang tumbuh di sebelah rumahku itu, aku merasa dia hidup. Bukan hidup layaknya yang ilmu biologi ajarkan. Hidup yang kurasakan pada rumpun bambu itu adalah hidup yang memiliki jiwa. Hingga, suatu ketika aku pernah menyentuh tunasnya. Berharap dia berbicara. Sayang, aku tak memahami bahasanya.

Beranjak dewasa, sekira umur dua belasan, langit kuanggap magis. Aku betah menghabiskan waktu memandang langit biru. Dalam pandangan mataku, aku berusaha melucuti sesuatu dibalik warna biru itu, berharap menemukan cacat di sana. Tapi tak pernah sekalipun berhasil. Langit begitu sempurna dalam birunya. Semakin lekat dia dipandang, semakin magis rasanya.

Itu dulu. Sekarang bagaimana?

Sekarang semua tampak biasa. Tawar. Tidak begitu menggairahkan.

Rutinitas fungsional orang dewasa tampaknya menumpulkan kepekaan rasa dan mengikis imajinasi. Mungkin sudah terlampau lama aku akrab dengan apa yang kita anggap sebagai kemajuan dan hilang ingatan soal bagaimana menghayati alam. Begitu banyak kemudahan yang ditawarkan. Di saat yang sama, begitu banyak hal magis yang terabaikan. Hal-hal yang, bagi manusia 4.0, mungkin dianggap terlampau sentimental.

Di sela hidup yang rasanya biasa-biasa saja ini, aku menemukan sesuatu yang tidak biasa. Mungkin tidak semagis rumpun bambu di sebelah rumah atau langit biru di pikiran kanak-kanakku. Dia adalah Aksara Hikam Nararya.

Hikam ada dalam hidupku dengan janggalnya. Aku ingat bagaimana mati rasanya aku saat pertama kali mendengar Hikam menangis di kamar operasi. Mati rasa ini entah karena obat bius atau karena ada sepersekian diriku yang belum siap menjadi Ibu. Entahlah.  Pikiranku baru bekerja baik setelah di luar kamar operasi, saat melihat mamak dan mendengarnya berkata, “Hai Ibuk”.
Detail soal proses operasi sesar ini akan kuceritakan lain kali.

Ada bagian diriku yang hidup dalam diri Hikam. Melihatnya tumbuh seperti melihat sepersekian dari diriku yang tumbuh dalam dirinya. Ada rasa tenang sekaligus khawatir di sana. Bahagia sekaligus sedih entah mengapa. Tiap rasa bertalian dengan kutub rasa sebaliknya.

Melihat Hikam tumbuh seperti bercermin pada sejarah hidupku. Di suatu masa, aku pernah semungil dan serapuh Hikam. Tumbuh mengalir tanpa prasangka buruk pada kehidupan. Begitu jernih. Murni.

Bersama Hikam, aku menemukan kembali kanak-kanakku. Membuat suara-suara gaduh tak bermakna. Melompat dan berjingkat. Menepuk tembok dan kasur tanpa alasan. Memandang keluar jendela tanpa tujuan. Mengamati semut dan mengobrak-abrik barisannya.

Hikam membantuku mengakrabi kembali sepersekian diriku yang lama kulupakan. Belajar segala hal dengan gembira. Nihil kepentingan. Ingin tahu banyak hal karena memang ingin tahu, bukan basa-basi untuk memberi makan ego semata.

Setiap hari, kulihat Hikam tumbuh. Ia, yang dulu begitu rentan pun hanya bisa menangis dan sesekali menggerakan tangan dan kaki, kini bisa berguling dan secara sadar berkali-kali menjatuhkan diri dari tempat tidurnya.

Hikam yang dulunya hanya sanggup menangis dan sesekali menggerakan tangan dan kaki, kini bisa berteriak etdaaetdaababaa.

Gerak-geriknya itu adalah ekspresi ketulusan. Sesuatu yang sangat aku rindukan di usiaku yang seringkali musti memasang raut wajah yang berbeda dengan yang kurasakan. Semua mengatasnamakan fungsionalitas kedewasaan.

Omong kosong.

Aku rasa aku tak pernah dewasa.

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*