Ditulis Ibuknya Hikam

Pak, apa kabar bapak hari ini?

Semoga Bapak sehat dan cukup tidur.

Bagaimana langit Ambarawa pagi ini?

Ibuk harap langit di sana cerah, agar acara yang saban sore bapak rapatkan di kantor berjalan lancar.

****

Pak, hari ini Ibuk ingin bercerita kepada Bapak soal bagaimana Hikam dilahirkan.

Bapak tentu masih ingat kita memilih Sabtu, 26 Januari 2019 sebagai tanggal sesar. Bukan karena persoalan tanggal baik. Tapi murni Sabtu berarti libur buat Bapak yang memburuh lima hari kerja.

Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 9, suster datang ke ruang rawat, bertanya soal ini itu, dan pamit mengambil alat cukur. Suster bilang saat sesar, daerah di bawah pusar harus bersih. Meminimalisasi resiko infeksi katanya.

Bapak tahu, di titik itu Ibuk sadar bahwa perempuan yang hendak menjadi ibu harus rela tubuhnya mendapat perlakuan apapun. Apapun yang dirasa perlu untuk membuka jalan bagi bayi yang jiwanya masih suci. Sekalipun perlakuan itu meninggalkan luka di tubuh si perempuan.

Sabtu 26 Januari pukul 12, suster kembali datang ke ruang rawat. Kali ini, Ibuk diminta berganti pakaian. Bapak dan mamak waktu itu ikut mengantar sampai di depan ruang operasi.

Pak, di ruang operasi yang dingin itu seketika Ibuk merasa terasing. Melahirkan bayi, meski secara sesar, bagi Ibuk adalah momen yang sakral. Momen penting yang jadi penanda bahwa kita akan jadi orang tua. Tapi di ruangan itu, wajah semua orang yang Ibuk lihat tampak biasa. Mereka sibuk membicarakan kenaikan gaji dan tunjangan, sekolah anak dan makan siang. Tak ada ekspresi yang istimewa. Di ruangan itu, ada sekira enam atau tujuh orang. Hanya saja Ibuk merasa sendiri.

Lamunan Ibuk pecah ketika dokter anastesi membuka kesempatan buat mengobrol. Dia dengan ceplas-ceplosnya bertanya mengapa Ibuk mau dihamili. Ibuk jawab sekenanya: khilaf yang menyenangkan. Dan, basa-basi lain mengalir deras dari mulutnya.

Di penghujung obrolan, dia meminta ibuk duduk tegak. Dokter anastesi lalu menyuntikkan obat bius di sela-sela tulang belakang. Sekali mencoba, jarum tidak menusuk sempurna. Ibuk diminta miring ke kiri. Kali ini jarum sukses menghantarkan cairan yang lama-lama membuat kaki kesemutan dan akhirnya mati rasa.

Di bawah lampu yang demikian terang, Ibuk berbaring. Masih merasa aneh, asing dan sendiri. Ibuk hanya diam menerawang kosong ke langit-langit ruang operasi. Sementara, dokter dan timnya sibuk dengan selang, gunting, pisau dan alat-alat yang entah apa namanya. Sesekali mereka berkelakar soal pendapatan, juga soal mahalnya ongkos hidup. Ibuk masih diam.

Entah di menit berapa, tiba-tiba dokter menekan kuat perut Ibuk. Bersamaan dengan itu, tangisan Hikam memenuhi ruang operasi. Mendengar jelas tangisan anak kita, Ibuk masih diam. Di ruang itu, Ibuk merasa asing.

Setelahnya, Hikam diletakkan di dada Ibuk. Hanya sekian detik saja, sampai dokter anak mengangkat Hikam kembali dan bilang jika bayi bisa kedinginan. Karenanya ia lekas membawa Hikam pergi.

Di momen, yang hanya beberapa detik itu, Ibuk hanya sanggup berkata pada Hikam: Sayang.

Ibuk tak bisa menangis layaknya adegan pasca-sesar di sosial media. Rasanya masih asing. Ibuk masih merasa sendiri.

Perasaan ini pupus setelah Ibuk lihat wajah Mamak, wajah Mbah Uti dan wajah Bapak. Air mata seketika mengalir begitu saja. Ada rasa haru yang hangat merambat di dada, mengalahkan keterasingan yang beberapa jam Ibuk rasakan sebelumnya.

Di momen itu, Ibuk baru sadar. Hikam baru saja lahir ke dunia. Kita baru saja menjadi orang tua, Pak.

****

Pak, 29 tahun lalu tepat di tanggal ini Bapak pun dilahirkan ke dunia. Insyaallah kelahiran Bapak adalah berkah. Berkah buat siapapun yang mengenal Bapak.

Ibuk ingin bilang terima kasih. Terima kasih karena Bapak sudah mengusahakan segala yang Bapak bisa, buat keluarga kecil kita dengan sepantasnya, setidaknya hingga di titik ini. Entah berapa banyak mimpi dan keinginan yang sudah Bapak sisihkan, untuk memberi ruang buat Ibuk dan Hikam. Terima kasih ya Pak. Terima kasih karena Bapak sudah banyak menahan diri.

Berdoalah Pak. Berdoalah agar kita bersabar untuk saling menguatkan.

Kuat untuk menemani Hikam menjadi sebaik-baiknya manusia. Berkah bagi sesama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*