admin/ August 14, 2019/ narasi bapak/ 0 comments

Ditulis Bapaknya Hikam.

Bayi harus ditempatkan setara sebagai subjek, bukan objek. Aku dan kami harus lebur menjadi kita.

Memiliki bayi adalah tantangan. Menjaga dan membesarkan anak sungguh pengalaman yang berbeda dengan menjaga dan membesarkan apapun itu. Perasaan mengasihi dan sebal karena lelah pun beradu satu. Naik turunnya perasaan hanya dalam hitungan detik.

Ketika Hikam lahir, bahagia dan lega hadir menyeruak seketika. Detik demi detik perasaan senang mengalir melalui nadi. Namun itu tidak berlangsung lama. Tidak sampai setengah jam, perasaan yang lain meyusul. Perasaan yang memuncul banyak pertanyaan, “mampukah aku?”

Pasca lahir, Hikam dan Ibunya tidak dirawat gabung. Karena kelahiran cesar, terpaksa Hikam dirawat di ruang bayi. Memutuskan untuk cesar pada usia kandungan 38 minggu, barangkali menjadikan ASI Ibunya Hikam belum deras keluar.

Pada dua hari pertama, ASI kami peroleh tidak dari hasil pumping, tapi literaly memeras dan disedot menggunakan spet. Sekali proses perasan pun hanya menghasilkan 3-8 ml. Setelah memerah, ASI yang sebenarnya masih berupa colostrum diserahkan kepada perawat untuk kemudian diminumkan ke Hikam. FYI, dua hari pertama ini pun, Bapaknya Hikam baru boleh nggendong sekali saja.

Pola seperti ini menjadikan guladarah pada Hikam menjadi drop. Ada tiga opsi yang ditawarkan oleh perawat pada kondisi seperti ini. Pertama, diberikan air gula. Kedua, diberikan susu formula. Ketiga, dibiarkan saja.

Kami memilih opsi diberikan air gula. Rendahnya kadar guladarah pada bayi yang baru lahir bisa berakibat fatal. Akibat paling parah adalah rusaknya sel otak secara permanen, sehingga timbul kejang bahkan berujung kematian. Pemberian air gula ini hanya boleh diberikan maksimal dua kali. Tidak lebih dari itu.

Jika produksi ASI masih belum mampu mengejar target guladarah ini, susu formula harus diberikan. Hikam dites glukosa sehari dua kali. Akhirnya, Hikam pun sempat minum susu formula sebanyak 200 gram.

Hikam masuk dalam kategori bayi beresiko hipoglikemia, karena lahir dari Ibu yang selama masa kehamilam mengalami hipertensi. Karena itu salah satu alasan tidak rawat gabung selain karena cesar. Bayi dengan resiko ini harus dalam pengawasan selama 72 jam terhitung sejak kelahiran.

Ada lima kategori risiko bayi terkena hipoglikemia. Pertama, bayi dilahirkan dari Ibu dengan riwayat diabetus melitus. Kedua, bayi dengan berat badan rendah. Ketiga, bayi yang sangat kecil atau imature. Keempat, bayi yang lahir lebih bulan. Kelima, kasus yang terjadi pada Hikam.

Sebenarnya bayi baru lahir bisa bertahan tanpa pemberian asupan apapun selama maksimal tiga hari. Pasalnya dalam plasenta yang masih terkait dengan pusat, masih membawa asukan makanan. Salah satunya adalah glukosa atau gula. Namun jika bayi pembaca yang budiman sekalian termasuk dalam lima kategori yang telah disebutkan. Tolong jangan dipaksakan pada kemampuan plasenta yang masih menempel ini.

Barangkali ada orang tua yang ngotot untuk pemberian ASI EKSLUSIF. Tidak bisa dipungkiri ASI ESKLUSIF memang yang terbaik untuk bayi. Namun perlu disadari bersama membesarkan bayi itu adalah seni. Bukan ilmu pasti. Harus dipertimbangkan secara rasional segala aspek yang menjadi penyebab dan mungkin akan terjadi pada bayi. Selain itu pemberian ASI EKSLUSIF sebenarnya adalah kebutuhan bayi atau ego dari orang tuanya?

Ibuknya Hikam pun sempat bimbang dan sedih mengetahui Hikam pernah diberikan selain daripada ASI. Namun, lagi-lagi kami dibenturkan kenyataan, barangkali juga takdir. Akhirnya memang harus diikhlaskan, segala ego untuk menjadi orang tua yang sempurna. Pada titik ini kami mulai belajar dan sadar bahwa menjadi orang tua itu bukan tentang menjadi orang tua, tetapi menjadi Bapak-Ibunya Bayi. Bayi harus ditempatkan setara sebagai subjek, bukan objek. Aku dan kami harus lebur menjadi kita.

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*