admin/ July 8, 2019/ narasi ibuk/ 2 comments

Ditulis Ibuknya Hikam

Dua puluh tahun yang lalu, di atas ranjang besi bertingkat dua, aku dan mamak berbaring bersisian. Mamak menyingkap baju, memperlihatkan perutnya yang bergelambir. Kulit perut itu bergaris kerut putih di sana sini. Mamak bilang perutnya jadi begitu karena di suatu masa, aku pernah tinggal di dalamnya.

“Gimana caranya ngeluarin adek Mak?” tanyaku.

“Ya kayak orang eek aja,” jawab Mamak sekenanya.

Bertahun-tahun kemudian, giliran aku yang mengalami rasanya hamil. Tapi tetap tak dapat kurasakan sensasi melahirkan yang “kayak orang eek aja” itu. Anak pertama kami, Hikam, dilahirkan dengan cara caesar.

Semua berawal saat kehamilanku menginjak usia 33 minggu. Waktu itu tensi yang biasanya paling tinggi ada di angka 116/70, melonjak ke angka 130/80.

“Kamu degdeg-an paling dek,” suara Mamak terdengar di seberang telepon.
“Semoga cuman karena degdeg-an sih,” tukasku. Semoga…

Setelah itu, selama seminggu kepalaku sering terasa berat. Rasa berat di kepala mudah datang, terutama saat kecapekan. Karena datangnya timbul tenggelam, aku tak terlalu memperhatikan. Pikirku hanya kecapekan saja.

Di minggu ke 34, kami ke obsgyn untuk kontrol. Benar saja, tensiku mencapai 140/90. Tidak hanya itu, sewaktu USG dokter juga bilang anak kami masih kurang bobotnya. Ukuran perutnya kecil, seingatku begitu kata dokter.

Dokter lalu minta agar aku tes urin. Hasilnya protein +. Seharusnya tidak ada kandungan protein dalam urin. Tapi jika ada, maka itu menandakan adanya gangguan ginjal.

Pre-eklamsia. Istilah asing ini pertama kali kudengar di usia kehamilanku yang ke 34. Dokter obsgyn mendiagnosis aku terkena gangguan kehamilan ini, seingatku begini katanya:

Pre-eklamsia adalah komplikasi kehamilan.

Biasanya ditandai dengan kumpulan gangguan kesehatan pada bumil. Beberapa diantaranya adalah;

(1) tangan atau kaki bumil bengkak,

(2) darah tinggi pada bumil yang tidak memiliki riwayat hipertensi,

(3) ditemukan protein dalam urin.

Gejala yang pertama tidak selalu khas menjurus kepada pre-eklamsia. Tapi gejala kedua dan ketiga adalah indikator paling jamak pada bumil dengan pre-eklamsia. Satu-satunya cara menghentikan gangguan di atas adalah melahirkan si jabang bayi. Selama bayi masih dalam rahim, selama itu gangguan berlanjut.

Biasanya pre-eklamsia terdeteksi pada usia kandungan 20 minggu. Karenanya, banyak ibu yang harus melahirkan bayi prematur dengan cara caesar. Membiarkan pre-eklamsia tanpa tindakan tepat bisa berakibat fatal untuk ibu dan bayi. Fatal karena ibu dapat kejang (eklamsia) saat mengejan dalam proses melahirkan normal. Beberapa kasus bahkan membuat ibu koma setelah kejang.

Penyebab pre-eklamsia belum diketahui secara pasti. Tapi ahli yakin semua gangguan kehamilan dalam pre-eklampsia bermula dari kelainan plasenta. Ibu dengan pre-eklamsia memiliki pembuluh darah di plasenta yang tidak berkembang dengan baik. Akibatnya, aliran darah yang membawa nutrisi menuju janin terganggu. Itu menjelaskan mengapa bobot bayi kurang.”

Selesai mendengar penjelasan dokter yang panjang lebar itu, rasa berat dan menekan di kepalaku muncul.

“Caesar aja nggak papa. Pokoknya yang penting ibu sama bayinya selamat,” kata suamiku selagi kami berjalan ke parkir rumah sakit.

Aku hanya diam. Selama perjalanan dari rumah sakit ke rumah aku diam saja. Terlalu acak informasi yang harus aku urutkan dengan akal. Terlalu keras harapanku yang ingin melahirkan normal dibenturkan dengan kenyataan. Karenanya, aku diam.

Aku masih ingat, di lampu merah pertigaan, di seberang Pizza Hut Sultan Agung, suamiku memecah keheningan, “Sabar.. Sabar.. Jangan dipikirkan terlalu dalam. Sabar ya..”

Mendengar suaranya, keributan di kepalaku mereda. Berganti air mata yang sukses mendobrak pertahanan.

Share this Post

2 Comments

  1. Pingback: Merangkai Aksara -

  2. Sing penting wis lahir sehat kabeh ibu dan bayi… sekarang mikirin piye carane tumbas susune Mas Hikam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*